Thursday, January 8, 2015

GREEN PLAN



GREEN PLAN

                 Perkembangan kawasan kota yang semakin pesat menyebabkan tingginya desakan terhadap pemenuhan kebutuhan ruang hunian dan aktivitas ekonomi. Hal tersebut berpotensi menimbulkan berbagai masalah yang bisa menciptakan urban paradox, di mana kota yang diharapkan menciptakan kesejahteraan justru melahirkan kantong-kantong kemiskinan baru. Oleh karena itu, upaya mengendalikan kawasan perkotaan harus berbasis pada penataan ruang dan dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Pendekatan yang dapat dilakukan dalam pembangunan berkelanjutan tersebut adalah konsep smart green city planning. Untuk itu diperlukannya green city planning yang menghasilkan sebuah rencana kota yang secara cerdas memenuhi kebutuhan dan memberikan solusi terhadap masalah di kota tersebut, dengan memperhatikan aspek adaptasi terhadap bencana dan mitigasi terhadap permasalahan lingkungan,
Smart green city planning memiliki terdiri atas 5 konsep utama yang diperinci ke dalam berbagai strategi dan aksi:
  1.     Konsep kawasan berkeseimbangan ekologis (ecological balance complex). 

Strategi yang perlu dilakukan adalah mengupayakan keseimbangan air (water balance), keseimbangan karbondioksida (CO2 balance), dan keseimbangan energi (energy balance). Langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain penggunaan teknologi sirkulasi air hujan, pelestarian hutan, maupun penggunaan energi matahari (solar energy).

2.       Konsep desa ekologis (eco village), 
yang terdiri atas 3 strategi, yaitu penentuan letak kawasan (complex placement), arsitektur, dan transportasi. Strategi tersebut dieksekusi dengan beberapa aksi, antara lain : kesesuaian dengan topografi, koridor angin, sirkulasi air untuk mengontrol klimat mikro, efisiensi bahan bakar, serta transportasi umum.

 3.       Konsep kawasan perumahan berkoridor angin (wind corridor housing complex), 
dengan strategi pengurangan dampak pemanasan. Caranya, dengan pembangunan ruang terbuka hijau, pengontrolan sirkulasi udara, serta menciptakan kota hijau.

4.       Konsep kawasan pensirkulasian air (water circulating complex). 
Strategi yang dilakukan adalah daur ulang air hujan untuk menjadi air baku. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai macam cara, antara lain pengumpulan air hujan, pembangunan kolam kecil, sistem pengolahan air kota, dan sebagainya.

5.       Konsep taman tadah hujan (rain garden), 
diwujudkan melalui strategi penyerapan air dari atap rumah, jalan, dan trotoar. Aksi yang dapat dilakukan antara lain pembangunan kolam, sculpture, dan taman bermain.

                Green city planning juga merupakan sebuah pendekatan yang memperhatikan berbagai aspek, di antaranya segi lingkungan hidup, ekonomi, sosial budaya, serta good governance. Di bidang lingkungan hidup, kebijakan yang diambil adalah pembangunan ruang terbuka hijau dan pengendalian emisi karbon. Perlu dilakukan pula pengelolaan kawasan di sepanjang aliran sungai/tepi air, dan kebijakan mitigasi serta adaptasi dalam rangka mengurangi resiko bencana.
                Di bidang ekonomi, perlu diterapkan kebijakan yang mengakomodasi keseimbangan peran sektor swasta dan ekonomi lokal. Pun dengan sektor informal dan tradisonal, yang perlu dilindungi serta diberdayakan. Selain itu, pengembangan transportasi harus disesuaikan dengan tata ruang kota. Sementara itu, di bidang sosial budaya, konsep smart green city planning menekankan perlunya pengaturan hal-hal yang berkaitan dengan arus urbanisasi, kependudukan, permukiman, serta pelestarian identitas budaya lokal. Terakhir, di bidang good governance, kebijakan yang harus diperhatikan adalah menyangkut kepemimpinan kabupaten/kota (urban leadership), peningkatan kapasitas kelembagaan kota, dan peningkatan pelayanan publik serta aksesibilitas informasi

Bagaimana mewujudkan sebuah kota yang ramah lingkungan?
  • Pembuatan taman-taman besar skala kota, seharusnya di tiap-tiap satuan hunian lingkungan terdapat pula taman-taman tempat warga bisa berinteraksi, melepas lelah, dan sebagai penghijauan lingkungan dan daerah tangkapan air. Taman ini harus benar-benar direncanakan denganserius dan perhitungan yang sangat seksama.
  • Sungai di kota-kota besar di Indonesia mengalami permasalahan yang hampir sama yaitu masih sungai tersebut masih dijadikan tempat sampah raksasa. Tidak mengherankan jika saat banjir menimpa sungai akan meluap dan warga di sekitar sungailah yang pertama akan merasakan akibatnya. Luapan sungai ini akan disertai dengan berbagai penyakit yang akan menyerang warga.
  • Selain pembuatan taman kota dan pengaturan pengadaan ruang terbuka hijau di lingkungan pemukiman, pengadaan ruang terbuka hijau bisa juga dilakukan di area jalan raya. Langkah ini bisa dilakukan dengan penanaman pohon-pohon peneduh dan taman-taman di trotoar dan median jalan.
  • Keberadaan pohon bisa menjadi penyaring debu dan polusi udara yang sangat ganas di jalanan kota. Kehadiran pepohonan juga bisa menurunkan suhu lingkungan sekitar 2⁰-6⁰ Celcius. Tetapi malah menebang pohon tersebut karena merasa menghalangi jalan, rontoknya daun yang mengotori halaman, bahkan merasa berbahaya jika ada angin kencang. Tanaman perdu yang berada di sekitar pepohonan peneduh yang ditanam di sekitar median dan trotoar jalan seringkali rusak dan mati akibat tergusur sampah, PKL dan pijakan kaki manusia yang tidak memperdulikan keberadaannya.
  • Seharusnya pemerintah daerah dan pemerintah kota mulai memperhatikan pula jenis-jenis pohon peneduh yang berada di area jalan raya. Mengingat luas jalan raya yang sangat panjang dan lebar adalah tempat paling potensial sebagai ruang terbuka hijau. Ruang jalan juga menjadi ruang kota yang paling polutif, panas dan tidak menyenangkan. Masyarakat saat ini juga semakin banyak menghabiskan waktunya di jalan raya karena banyak aktifitas warga yang menuntut mobilitas tinggi yang berujung pada tingginya pergerakan masyarakat di jalan raya.
  • Kita bisa meniru Jepang yang sangat memperhatikan jenis-jenis pohon yang tumbuh di sekitar  jalan raya. Pohon peneduh di jalan raya dipilih yang berwarna indah dan berubah saat pergantian musim, mereka menanam pohon maple, sakura atau pohon icho. Indonesia bisa menanam pohon flamboyan atau pohon lain yang bisa berubah warna. Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis tanaman dan pepohonan yang berwarna-warni atau pohon yang banyak  buahnya. Keberadaan pohon yang indah ini akan meningkatkan kecintaan warga akan lingkungan jalan dan pohon peneduhnya sehingga masyarakat akan merasakan manfaat langsung dan kemudian ikut menjaga keberadaan pohon dan akan mempercantik lingkungandi sekitar kawasan tersebut
  • Rumah bisa diupayakan berbagai cara untuk menciptakan rumah yang hemat energi den bisa menjadi solusi dari permasalahan lingkungan yang ada dengan menjadikan lingkungan rumah sebagai daerah tangkapan air skala kecil. Rumah bisamemaksimalkan energi angin, memanfaatkan pepohonan halaman dan mensiasati sinar matahari untuk menurunkan suhu rumah sehingga tidak perlu menggunakan AC dan menghemat lampu.
  • Untuk mendapatkan hawa yang sejuk rumah harus memiliki ventilasi silang dengan jendela-pintu yang terletak saling berseberangan yang menjadi tempat mengalirnya angin untuk bisa mengganti udara dalam rumah dan menurunkan suhu rumah. Posisi massa rumahyang terbaik untuk menangkap angin adalah pada posisi tegak lurus arah angin.
  • lingkungan rumah perlu dipersiapkan saluran dan resapan air hujan dari atap dan halaman yang diperkeras. Lahan rumah terbangun harus menyisakan minimal 30% lahan bangunan terbuka untuk penghijauan dan tanaman. Selain itu rumah dan bangunan di Indonesia yang beriklim tropis panas lembap sangat membutuhkan perlindungan bangunan terhadap sinar matahari. Penyelesaian paling sederhana adalah dengan penanaman pohon peneduh.

GREEN CITY


GREEN CITY


 GREEN CITY  atau “Kota Hijau” pada prinsipnya adalah sebuah konsep kota yang ramah lingkungan atau dengan kata lain, kota yang berdasarkan pada perencanaan dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan (lingkungan, sosial, dan ekonomi). Konsep kota yang ramah lingkungan merupakan pengefektifan dan pengefisiensian sumber daya alam dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin adanya kesehatan lingkungan, dan mampu mensinergikan lingkungan alami dan buatan.


Kota-kota ramah lingkungan (eco-cities/green city) baik yang sudah dibangun maupun yang masih dalam tahap perencanaan  memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu: kota-kota yang ingin mengurangi atau menghapuskan penggunaan bahan bakar fosil, membangun gedung yang ramah lingkungan serta memromosikan “ruang hijau” dan udara bersih.

Tujuan dari kota-kota hijau ini juga ingin menciptakan sistem transportasi publik yang hemat energi dan mudah diakses, menciptakan lingkungan kota yang ramah bagi pejalan kaki serta membangun prasarana yang terstruktur yang memadukan fungsi tempat tinggal, tempat kerja dan tempat belanja.Semua kualitas ini dikenal sebagai konsep pembangunan perkotaan yang berkelanjutan (sustainable urbanism).


Dalam skala kota, tentunya konsep tersebut haruslah diwujudkan secara lebih luas lagi. Keberadaan suatu kota sangat tergantung pada infrastrukturnya. Masih menurut Nirwono Joga, pola jaringan RTH dengan berbagai jenis dan fungsinya merupakan rangkaian hubungan dan kesatuan terpadu yang membentuk infrastruktur hijau (green infrastructure) atau infrastruktur ekologis (ecological infrastructure). Infrastruktur hijau dengan berbagai jenis dan fungsinya berperan dalam menciptakan keseimbangan ekosistem kota dan alat pengendali pembangunan fisik kota.


Konsep Green City merupakan frase yang sering digunakan dalam mengangkat  isu ekologis ke dalam konsep perencanaan kota yang berkelanjutan dan perwujudan green city merupakan tantangan ke depan dalam pembangunan perekonomian yang berkelanjutan. Beberapa aspek krusial yang harus dipertimbangkan dalam menyusun kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan, antara lain : harus dapat menyelesaikan permasalahan urbanisasi dan kemiskinan di kawasan pedesaan, kewajiban kota untuk menyediakan ruang hijau (RTH) minimal 30% dari luas wilayahnya, pengutamaan aspek perubahan iklim dalam kebijakan pembangunan, serta mengutamakan mitigasi dan risiko bencana


Menurut Prof. Joerg Rekittke dari National University Singapore dalam paparannya menjelaskan menjelaskan tentang konsep green city yang cukup menarik dan “out the box” dalam perencanaan landscape, yakni mengenai konsep “Urban Jungle”. Konsep ini, merupakan perencanaan ruang terbuka hijau kota dengan tipologi hutan tropis yang memiliki multiple layer vegetation.

Ruang terbuka hijau dalam konsep green city mencakup empat hal :

  1. Taman berskala bertetanggaan (neighbourhood park)
  2. Taman lingkungan (community park)
  3. Taman kota (city park)
  4. Taman umum (public park)

Taman-taman ini merupakan tempat interaksi antarwarga lingkungan. Untuk itu perlu membuka akses terhadap taman-taman tersebut, mengingat taman-taman kota yang ada skarang sulit diakses, karena lalu lintas disekitar taman yang padat dan kebanyakan merupakan taman pasif.





Salah satu contoh kota kota ramah lingkungan yang terbaik didunia:

  •  Kopenhagen, Denmark

Sebagai pemimpin dalam hal teknologi ramah lingkungan, Kopenhagen mendapat peringkat pertama di Eropa berdasarkan Siemen Greenest City Index. Maka pada tahun 2009, Denmark menjadi tuan rumah bagi UN’S 2009 Climate Change Conference. Lebih dari sepertiga penduduknya memilih menggunakan sepeda ke kantor dibanding mengendarai mobil dan pemerintah menawarkan pengurangan pajak bagi warga yang berpindah ke mobil elektrik


  •   Reykjavik, Islandia

Reykjavik merupakan kota yang hanya mempunyai populasi 115.000 orang dan merupakan ibukota dari Islandia. Reykjavik telah memanfaatkan energy dan menghasilkan listrik sepenuhnya dari tenaga air dan panas bumi. Kota ini juga menggunakan energy terbarukan untuk listrik bus berbahan bakar hydrogen dalam transportasi sehingga bebas dari emisi kendaraan. Dan kota Reykjavik berencana akan terbebas dari penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil dan menggantinya dengan sumber energy yang dapat diperbarui.
Islandia hingga saat ini masih menggunakan bensin namun banyak penduduknya telah beralih pada hidrogen serta mobil elektrik dan metan. Islandia akhirnya menyediakan pompa bensin khusus untuk mengisi ulang sumber energi ramah lingkungan tersebut. Reykjavik juga memiliki sistem pemanasan geotermal terbesar di dunia. Seluruh rumah di kota tersebut menggunakan air panas geotermal sebagai pemanas.


  •   Amsterdam, Belanda

Kota Amsterdam memiliki misi untuk menjadi salah satu kota yang paling mampu menghasilkan sumber daya berkelanjutan pada tahun 2020 dan jika dilihat dari kondisinya tampaknya pemerintah Amsterdam serius dalam menjalankan misi tersebut. Amsterdam adalah kota kelima dalam Global Power City of Europe sebagai kota ramah sepeda di Eropa dan kota ketiga paling inovativ serta Kota Terhijau kelima di Eropa dan tahun 2015 nanti Amasterdam membuat kebijakan bahwa seluruh bangunan harus ramah lingkungan.


  •   New York City, New York

Kota New York telah bekerja keras dalam mempromosikan gaya hidup ramah lingkungan. Kota tersebut memiliki 50 kendaraan elektrik untuk kendaraan kota, mengurangi kecanduan makanan berlemak dan yang terbaru adalah melarang penggunaan foam dan plastik dalam bungkus makanan serta menggandakan kemampuan daur ulang kota mencapai 30% pada tahun 2017 dan memperkenalkan pembuatan kompos kota.


  •   Vancouver, Kanada

Merupakan kota Kanada yang paling hijau dan kota kedua di Amerika Utara dengan udara terbaik dan CO2 terendah di Amerika Utara


  •   Stockholm, Swedia

Mengalahkan 34 kota Eropa lainnya dan memenangkan European Commission Award yang pertama pada tahun 2010. Stockholm memiliki banyak inovasi ramah lingkungan dan berencana mengurangi ketergantungan mereka pada penggunaan bahan bakar fosil pada tahun 2050. Beberapa ide antara lain mengkonversi sampah menjadi biogas untuk sistem transportasi umum dan penjernihan air hujan. Swedia secara umum adalah pemimpin dunia dalam mengatur sampah rumah tangga (99% didaur ulang atau digunakan sebagai penghasil energi).


  •   London, Inggris

Setelah tahun lalu London mengganti seluruh transportasi umum dengan bus hybrid, London berhasil mengurangi emisi hingga setengahnya. Program RE:LEAF akan meningkatkan jumlah wilayah hijau hingga 5% pada tahun 2025 (telah ditanam sekitar 10.000 pohon dan didistribusikan 11.000 kepada lebih dari 50 komunitas di sekitar London). Rencananya kota tersebut akan mendorong pengurangan Co2 hingga 60% pada tahun 2025 nanti.


  •   San Francisco, California

San Fransisco telah melarang penggunaan kantong plastik dan bungkus plastik sejak tahun 2007. Kota ini membangun instalasi turbin udara yang tingginya melebihi Empire State Building dan akan selesai pada tahun 2014. San Fransisco merupakan kota terhijau di Amerika Utara, 77% sampah kota didaur ulang dan sebagaian besar restoran menggunakan bahan lokal dan organik.


  •   Curitiba, Brasil

70% persen sampah Curitiba didaur ulang oleh warga. Kota tersebut telah menanam 1.5 juta pohon di sekitar jalan tol dan jalan besar ,serta memiliki inisiatif bahwa bagi penduduk dengan pendapatan rendah dapat tinggal di wilayah pinggiran kota. Program ‘Green Exchange Employment Programme’ memberikan imbalan bagi warganya untuk membersihkan kota mereka dengan menukarkan kantong sampah dengan tiket bus dan makanan. Anak – anak dapat menggunakan sampah yang telah digunakan dengan cokelat, mainan, tiket, peralatan sekolah dan tiket sebuah acara.


  •   Malmö, Swedia

Malmö mempromosikan perjalanan menggunakan kendaraan berbahan bakar ramah lingkungan sesering mungkin dan menyediakan wilayah bersepeda. 40% warga yang merupakan commuter dan 30% dari seluruh perjalanan di kota dilakukan dengan sepeda. Mereka memiliki PV dan sistem pemanas dengan menggunakan tenaga matahari yang diinstalasikan pada bangunan resmi di seluruh penjuru kota seperti musium, rumah sakit dan sekolah.

Sunday, October 5, 2014

DAMPAK PEMBANGUNAN ARSITEKTUR



DAMPAK PEMBANGUNAN ARSITEKTUR YANG BERHASIL DAN GAGAL




DAMPAK PEMBANGUNAN ARSITEKTUR YANG GAGAL:


 Nova Cidade de Kilammba

 site Nova Cidade de Kilammba

Nova cidade de Kilamba adalah sebuah proyek pembangunan kota mandiri yang terletak dipinggir Luanda, ibukota Angola, Afrika. Nova cidade de Kilamba ini terletak 30 km (18 mile) dari Luanda dan selesai dibangun pada Juli tahun 2012.  Pembangunan kota Kilamba adalah proyek unggulan pemerintah yang digunakan untuk memenuhi janji Presiden Jose Eduardo dos Santos yaitu membangun satu juta rumah dalam waktu empat tahun.

  Nova Cidade de Kilammba

Nova cidade de Kilamba dibangun perusahaan China yaitu China International Trust and Investment Corporation (CITIC) selama tiga tahun yang menghabiskan biaya sebesar US$3,5 miliar atau hampir Rp33 triliun. Pembangunan ini seluruhnya dibiayai uang pemerintah China dan harus dikembalikan Angola dalam bentuk minyak mentah. Nova cidade de Kilamba ini merupakan proyek terbesar dari pembangunan kota-kota satelit di sekitar Luanda yang dibangun perusahaan-perusahaan China. Pembangunan kota Kilamba ini juga diyakini sebagai salah satu mega proyek terbesar di Afrika.


 Nova Cidade de Kilammba



Nova Cidade de Kilammba

Nova cidade de Kilamba memiliki luas 5.000 hektar dan kawasan ini dikembangkan untuk menyediakan hunian yang layak bagi 500 ribu penduduk di Angola. Proyek ini memiliki 750 unit apartemen berlantai delapan, puluhan sekolah, 100 unit toko, stadion dan infrastruktur lainnya. Beberapa pertokoan dan sekolah telah mulai  beroperasi dan ratusan apartemen sudah ditinggali.
Tetapi tidak ada satu pun penduduk Angola yang sanggup membeli unit apartemen ini karena harga yang dipatok sangat besar yakni 75 ribu poundsterling atau sekitar Rp1,1 miliar (Rp14.694 per pounds). Sebagian besar penduduk Angola adalah masyarakat yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan dan cenderung hidup kumuh. Untuk itu, biaya tempat tinggal dengan nilai yang besar tersebut sangat tidak sesuai dan tidak mungkin dijangkau oleh penduduk Angola setempat.
Karena penduduk Angola yang tidak sanggup membeli apartment di Nova cidade de Kilamba ini, maka pembangunan kota mandiri angola, di afrika ini mengalami kegagalan sehingga membuat kota ini disebut-sebut sebagai proyek kota hantu. Disebut sebagai Kota hantu karena pembangunan kawasan Nova cidade de Kilamba yang baru dan lengkap dengan segala bangunan serta infrastrukturnya tetapi sepi peminat. Tidak banyak orang dan kendaraan yang terlihat di kota ini hanya sedikit orang terlihat yaitu karyawan perusahaan China. Kota Kilamba ini kosong sepi penghuni, salah satu buktinya yang terlihat adalah sampai saat ini dari 2.800 unit apartemen yang ditawarkan hanya 220 unit yang terjual. Dan jika apartemen-apartemen Nova cidade de Kilamba itu tidak terjual maka pemerintah Angola akan berpotensi dibebani investasi tak bermanfaat.
Dilihat dari kejadian Nova cidade de Kilamba di Angola, Afrika ini menunjukan bahwa masih ada proyek pembangunan yang kurang tepat sasaran, tidak mempertimbangkan kondisi masyarakat sekitar dan mempertimbangkan segala aspek . Dan yang perlu diperhatikan adalah dalam membangun suatu bangunan tidak hanya dilihat dari segi estetika dan desain yang menarik tetapi juga perlu menyeimbangkan dan mempertimbangkan kondisi ekonomi, lingkungan dan keadaan sosial masyarakat setempat. Pembangunan apartment mewah Nova cidade de Kilamba di tempat yang memiliki garis kemiskinan yang tinggi dengan harga yang selangit ini mengakibatkan gagal dan terbengkalainya mega proyek pembangunan kota mandiri di angola, Afrika tersebut.



DAMPAK PEMBANGUNAN ARSITEKTUR YANG BERHASIL:


SUNGAI CHEONGGYECHEON


Contoh arsitektur yang berhasil: Melalui Pembaharuan yang dilakukan oleh pemerintah Korea selatan disebuah sungai di pusat kota.
Pemerintah dan warga Seoul, Korea Selatan sudah membuktikannya bahwa sungai yang kotor dan kumuh bisa menjadi sungai yang bersih, bahkan menjadi tempat wisata yang menarik dikunjungi. Sungai Cheonggyecheon adalah sungai dengan panjang 8,4 km, sungai ini sekarang menjadi ruang rekreasi modern di pusat Kota Seoul Korea Selatan. Penataan kota secara masif di pusat kota ini dilakukan menelan dana sekitar 281 juta dolar Amerika. Pada awalnya dana yang sangat besar ini mengundang protes dari banyak pihak, namun setelah pembukaannya pada tahun2005 tempat ini menjadi tempat favorit bagi penduduk dan para turis. 

Sejarah penataan kawasan Sungai Cheonggyecheon
Setelah Perang Korea tahun 1950-1953, banyak penduduk bermigrasi ke Seoul untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Karena kondisi  ekonomi para pendatang ini terbatas, mereka lalu mendirikan rumah-rumah tidak permanen disepanjang sungai. Pemukiman ini kemudian menjadikan kawasan Sungai Cheonggyecheon sangatkumuh, sampah dimana-mana, lumpur dan kekumuhan sungai merusak wajah kota Seoul.
Kemudian pada tahun 1958 sungai ini ditutup seluruhnya dengan beton untuk dijadikan jalan, bahkan di atasnya didirikan jembatan layang. Penutupan sungai ini terjadi selama lebih kurang 20 tahun. Pada saat itu jalan di atas sungai dan jalan layang di pusat kota Seoul menjadi lambang kemajuan ekonomi dan industri Korea Selatan.
 Baru pada tahun 2003 seorang Walikota Seoul bernama Lee Myung-bak  berinisiatif untuk memindahkan jalan dan jalan layang di atas Sungai Cheonggyecheon dan mengembalikan sungai menjadi sungai terbuka dan memperbaikinya. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kealamiahan pada kota dan mempromosikan desain kota yang ramah lingkungan.Hadirnya sungai dengan air mengalir di kota membuat beberapa jenis ikan, burung dan serangga mulai kembali menghuni sungai. Suhu di sekitarnya juga menurun 3,6⁰. Saat ini Sungai Cheonggyecheon menjadi pusat budaya, rekreasi, taman kota dan pusat ekonomi bagi Seoul.
  
Sungai sepanjang 6 kilometer itu dulunya sangat kumuh, bahkan menjadi jamban dan tempat buang sampah bagi banyak orang.



 Sungai Cheonggyecheon  sempat menjadi simbol kemiskinan di Korea Selatan.
Rumah-rumah panggung kaum miskin bertebaran di sepanjang sungai sehingga membuat sungai Cheonggyecheon menjadi selokan besar dan tak ubahnya sebagai jamban dan tempat buang sampah bagi para pemukimnya. Pemandangan yang tak mengenakkan itu menyebabkan pemerintah setempat lalu melakukan perubahan besar-besaran.


Cheonggyecheon seperti “terlahir kembali”, bahkan kini menjadi salah satu kebanggaan Kota Seoul, ibu kota modern yang memperhatian kelestarian lingkungan hidup.
 
 
Dampak penataan kawasan Sungai Cheonggyecheon

Menurut laman Wikipedia, pada tahun 1958, dengan tujuan menjadikan Seoul sebagai kota modern, sungai Cheonggyecheon berubah fungsi menjadi salah satu simbol “modernisasi” Korsel. Hal ini dilakukan dengan merelokasi para pemukim liar, kemudian di sungai itu dibangun banyak tiang pancang dan beton untuk pembangunan jalan layang. Pada tahun 1976, akhirnya sebuah jalan layang seleabar 16 meter selesai dibangun.
Setelah kondisi Sungai Cheonggyecheon menjadi bersih, bahkan menjadi salah satu pusat rehat sore hari, tingkat polusi udara di Seoul menurun drastis. Udara kota menjadi lebih sejuk.
Penduduk Kota Seoul pun dapat melepas lelah dari kepenatan, bukan hanya di pusat perbelanjaan atau kafe-kafe, tapi juga dapat berkunjung ke sungai bersih ini dan berjalan-jalan di sana. Sebuah tempat yang gratis dan tidak kalah menarik untuk bersantai. Sungai Cheonggyecheon juga menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Seoul.

Para wisatawan di Sungai Cheonggyecheon











Sungai Cheonggyecheon pada malam hari masih ramai dikunjungi wisatawan


 Semoga sungai Cheonggyecheon dapat menjadi aspirasi dan inspirasi bagi kota-kota besar lainnya dalam menjaga lingkungan sungai yang bersih dan menyenangkan.


Sumber: